
Gamblegrid.id – Banjir bandang melanda Angola setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut selama berjam-jam. Peristiwa ini mengakibatkan sedikitnya 15 orang meninggal dunia serta merendam lebih dari 4.000 rumah warga.
Berdasarkan laporan layanan darurat setempat, bencana ini juga menyebabkan kerusakan infrastruktur di berbagai daerah, memperparah kondisi masyarakat yang terdampak.

Benguela Jadi Wilayah Paling Terdampak
Kota Benguela menjadi daerah dengan dampak paling parah. Dari total korban jiwa, sebanyak 12 orang dilaporkan meninggal di wilayah ini. Sementara itu, tiga korban lainnya ditemukan di ibu kota Luanda.
Seorang warga Luanda bernama Natalia mengungkapkan bahwa rumahnya terendam air hingga menyerupai kolam. Ia mengaku kehilangan hampir seluruh harta bendanya akibat banjir tersebut.
“Kami kehilangan hampir segalanya dan tidak tahu harus pergi ke mana,” ujarnya dengan penuh keputusasaan.
Warga Mengungsi dan Butuh Bantuan
Natalia bersama keluarganya terpaksa mengungsikan anak-anak serta cucunya ke rumah kerabat yang berada di lokasi lebih aman. Kondisi ini mencerminkan kesulitan yang dialami banyak warga akibat bencana tersebut.
Para korban kini sangat membutuhkan bantuan, baik berupa tempat tinggal sementara maupun kebutuhan pokok untuk bertahan di tengah situasi darurat.
Perubahan Iklim Perparah Cuaca Ekstrem
Hujan lebat sebenarnya merupakan fenomena yang cukup umum terjadi di Angola saat musim penghujan. Namun, para ilmuwan menyatakan bahwa perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia membuat kejadian cuaca ekstrem menjadi lebih sering dan intens.
Hal ini meningkatkan risiko terjadinya bencana seperti banjir bandang yang berdampak luas pada masyarakat.
Dampak Meluas Hingga Negara Tetangga
Tidak hanya Angola, kondisi serupa juga terjadi di negara tetangga, Namibia. Sungai Zambezi dilaporkan meluap drastis hingga mencapai ketinggian sekitar 6,8 meter, jauh di atas level normalnya yang berkisar empat meter.
Akibatnya, ribuan warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai terpaksa mengungsi. Pemerintah setempat telah menyiapkan sembilan kamp darurat, dengan salah satunya menampung lebih dari 2.700 orang.
Upaya Penanganan dan Harapan Pemulihan
Pihak berwenang di kedua negara kini terus berupaya menangani dampak bencana dengan mengevakuasi warga serta menyediakan tempat penampungan sementara. Meski demikian, proses pemulihan diperkirakan akan memakan waktu cukup lama mengingat luasnya kerusakan yang terjadi.
Bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem yang semakin tidak menentu di berbagai belahan dunia.







