Gamblegrid.id – Militer Iran kembali melancarkan serangan balasan dengan menargetkan pangkalan militer di Arab Saudi. Serangan ini dilaporkan mengenai fasilitas yang digunakan oleh pasukan Amerika Serikat.
Akibat insiden tersebut, sedikitnya 12 personel militer AS mengalami luka-luka, dengan dua di antaranya dilaporkan dalam kondisi serius.
Target Pangkalan Udara Strategis
Serangan tersebut disebut menyasar Pangkalan Udara Pangeran Sultan, salah satu fasilitas penting yang menampung pasukan Amerika di kawasan Teluk. Saat serangan terjadi, para tentara berada di dalam bangunan kompleks militer tersebut.
Serangan Gunakan Rudal dan Drone
Menurut laporan media internasional, serangan dilakukan menggunakan kombinasi rudal dan drone tempur.
Kerusakan Fasilitas Militer
Selain melukai personel, serangan juga mengakibatkan kerusakan pada sejumlah aset militer, termasuk pesawat pengisian bahan bakar di udara yang berada di pangkalan tersebut.
Pihak Arab Saudi sebelumnya dilaporkan sempat mencegat beberapa rudal yang mengarah ke area sekitar pangkalan.
Eskalasi Konflik di Timur Tengah
Serangan ini merupakan bagian dari rangkaian aksi balasan Iran terhadap negara-negara Teluk yang dituduh mendukung operasi militer AS dan Israel.
Dampak Perang yang Meluas
Konflik memanas sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Sejak saat itu, situasi di kawasan semakin tidak stabil dengan serangan yang terjadi secara beruntun.
Korban di Kedua Pihak
Pertempuran yang terus berlangsung telah menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak.
Ratusan Tentara AS Terluka
Dilaporkan bahwa lebih dari 300 tentara AS mengalami luka-luka akibat serangan balasan Iran di berbagai wilayah Teluk, sementara belasan lainnya tewas.
Di sisi lain, Iran juga mengalami korban besar akibat serangan udara yang dilakukan AS dan Israel, dengan jumlah korban mencapai lebih dari seribu orang.
Belum Ada Pernyataan Resmi AS
Hingga saat ini, pihak Pentagon maupun CENTCOM belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden tersebut.
Menunggu Klarifikasi Resmi
Absennya pernyataan resmi dari otoritas militer AS membuat situasi masih terus dipantau oleh berbagai pihak internasional.









