Gamblegrid.id – Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, meminta pemerintah Lebanon untuk tidak memberikan konsesi tanpa imbalan kepada Israel. Pernyataan ini muncul menjelang rencana perundingan antara kedua pihak yang dijadwalkan berlangsung di Washington DC dalam waktu dekat.
Dalam pernyataan yang disiarkan melalui media resmi kelompok tersebut, Qassem menegaskan bahwa pihaknya menolak kembali pada kondisi sebelumnya yang dinilai merugikan Lebanon. Ia juga mendesak para pejabat negara agar tidak mengambil langkah kompromi sepihak.
Kritik atas Serangan Mematikan
Qassem turut mengecam keras serangan terbaru yang terjadi di wilayah Lebanon. Ia menyebut insiden tersebut sebagai aksi kekerasan serius, menyusul laporan yang menyebutkan ratusan korban jiwa akibat serangan udara yang terjadi beberapa hari terakhir.
Israel Buka Peluang Dialog dengan Lebanon
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan kesiapan untuk memulai dialog langsung dengan Lebanon. Ia menginstruksikan pejabat terkait di Tel Aviv untuk segera mengatur proses negosiasi.
Menurut Netanyahu, pembicaraan ini akan berfokus pada upaya perlucutan senjata Hizbullah serta membuka peluang terciptanya hubungan damai antara kedua negara.
Amerika Serikat Jadi Tuan Rumah
Amerika Serikat dijadwalkan menjadi fasilitator utama dalam pertemuan tersebut. Negosiasi perdana direncanakan berlangsung di kantor Departemen Luar Negeri AS di Washington DC.
Sejumlah diplomat dijadwalkan hadir, termasuk Duta Besar AS untuk Lebanon Michel Issa. Sementara itu, pihak Israel akan diwakili oleh Yechiel Leiter, dan Lebanon oleh Nada Hamadeh-Moawad.
Negosiasi Berlangsung di Tengah Eskalasi Militer
Meski rencana dialog tengah disiapkan, situasi di lapangan masih memanas. Serangan udara Israel di wilayah selatan Lebanon terus berlanjut dan dilaporkan menimbulkan ratusan korban tewas serta lebih dari seribu orang luka-luka.
Media di Israel menyebutkan bahwa perundingan kemungkinan tetap berjalan meski konflik militer belum mereda.
Gencatan Senjata Diperdebatkan
Sebelumnya, sempat diumumkan adanya gencatan senjata selama dua pekan yang melibatkan Iran dan dimediasi oleh Pakistan. Namun, klaim bahwa kesepakatan tersebut mencakup Lebanon dibantah oleh pihak AS dan Israel.
Perbedaan pandangan ini semakin menambah kompleksitas situasi, di tengah upaya diplomasi yang sedang diupayakan untuk meredakan konflik.









